HOAX Menjadi Bencana Intelektual

HOAX Menjadi Bencana Intelektual

Oleh : Mukarom, S.Sos.I, MM

Jabatan dan pendidikan tinggi tidak menjamin seseorang itu terbebas dari kebodohan dan kecerobohan, nalar yang nggak singkron dengan perasaan atau keinginan menjadi penyebab utamanya. Padahal orang yang berpendidikan itu seyogyanya telah terlatih dalam menyeimbangkan antara pikiran, perasaan dan keinginan (cita-cita) dengan dasar etika dan budi pekerti luhur. Ibaran sungai sudah di pasang alat penyaring sampah agat tidak menyumbat atau mengotori air agar tetap bersih.

Ternyata persepsi itu salah, karena jabatan dan pendidikan tinggi tidak menjamin seseorang dapat menyaring informasi-informasi yang datang, dan akhir-akhir ini terlihat secara nyata bahwa yang memperoduksi, menyebar dan mengarang materi hoax itu orang yang memiliki pendidikan yang tidak diragukan dan memiliki jabatan, yang menjadi korban adalah semua orang, kecuali meraka yang menyebar, memproduksi dan memberi materi hoax.

Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tegas mengatakan,

“Cukuplah seseorang dikatakan sebagai pendusta apabila dia mengatakan semua yang didengar.” (HR. Muslim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Ketenangan datangnya dari Allah, sedangkan tergesa-gesa datangnya dari setan.” (HR. Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubra 10/104 dan Abu Ya’la dalam Musnad-nya 3/1054)

Allah Ta’ala berfirman,

“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujuraat [49]: 6)

Tapi kenapa kita masih saya berbuat kehinaan demi cita-cita dengan meninggalkan etika, akal sehat dan budi pekerti yang luhur.

Astaghfirullah………..

Semoga Allah mengampuni kita semua.

***